Pertemuan
singkat terjadi diantara kita, sepintas tapi dalam, aku melihat secara tegas
wajahmu, sikapmu, bahkan senyum indah yang kau tunjukkan kepadaku. Hatiku berdegup
sekencang – kencangnya. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Aku selalu
melihat dirimu. Ingin ku sapa tapi apalah dayaku. Beban pikiran dan hatiku
seakan menahanku untuk menghampirimu, bahkan hanya berbicara “selamat pagi” pun
aku tak sanggup. Sungguh suatu hal yang tak mengenakkan bagiku.
Hari demi hari
ku tahan hasratku, hingga pada saatnya aku memberanikan diri untuk berbicara. Senang,
bahagia, disaat kamu mulai me-respon aksiku. Aku benar – benar lupa akan segala
bebanku disaat aku bertemu denganmu, berbicara denganmu, terseyum dan tertawa. Padahal
aku tahu, suatu saat, ini akan menjadi sebuah bom waktu bagiku. Semua beban
yang ku lupakan pada akhirnya akan menyerangku.
Aku tak tahu
ini akan berjalan sampai kapan. Apa yang di depan mataku saat ini hanyalah
dirimu seorang. Mungkin konyol, tapi itulah aku. Aku tak mau kehilangan dirimu.
Tanpa kusadari,
aku dan kamu mulai bisa membuka hati masing – masing. Kisah demi kisah
diceritakan. Seakan tidak ada tembok pembatas antara aku dan kamu. Kamu tahu? Aku
sangat bahagia. Tapi dibalik itu semua, aku tidak mau kamu tahu apa yang sedang
aku simpan selama ini. Aku takut, takut kamu menjauh dariku.
Dengan penuh
keberanian aku coba untuk memulai hubungan ini. Segala cara aku lakukan,
mungkin tidak, karena kemampuanku pun terbatas. Aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu
saat ini. Apakah kamu benar – benar sudah menerima keadaanku atau belum sama
sekali. Tapi itulah yang kusebut perjuangan.
Berjuang seakan – akan memang tidak ada rintangan disampingku. Padahal aku
tahu, ini tidak akan semudah membalik telapak tangan. Dan aku tahu, dia, dia
dan dia yang juga mencoba untuk mendekatimu, sama seperti aku.
Aku sudah
meyakinkan diriku, aku akan mengungkapkan perasaanku padamu. Semua dan tulus. aku
memang mengharapkan jawaban yang baik darimu, tapi aku tidak memaksa. Aku tidak
ingin kamu membenciku.
Aku bukanlah
orang yang kaya, aku bukanlah seorang cendekiawan, aku bukanlah seorang
seniman, aku hanyalah aku. Aku yang seperti ini, jelek, tidak mempunyai apa –
apa, bahkan kemampuan yang aku banggakan tidak sehebat yang orang – orang
miliki. Aku hanyalah seorang pengkhianat, penghianat segala nikmat yang Tuhan
berikan kepadaku. Aku selalu protes, mengeluh, dan sombong. Tapi percayalah,
disaat aku bertemu denganmu, perlahan tapi pasti aku bisa kembali padaNya. Mulai
bisa bersyukur terhadap segala nikmat dan ciptaanNya.
Sayang, inilah
aku. Aku yang seperti inilah yang mau menjadikan kamu orang satu – satunya yang
ada di hatiku. Maukah kamu terus mendampingiku? Meskipun saat aku terjatuh? Disaat
aku tak mampu lagi untuk menerima dunia ini?
Suatu saat aku
berbicara pada bulan Purnama yang indah dan bersinar sangat terang, oh Bulan,
sungguh Tuhan menciptakanmu dengan segala kuasaNya. Kau indah, dan selalu
menerangiku disaat hatiku mulai kehilangan sinarnya. Oh Bulan, sampaikan salamku untuknya,
salam yang tulus dari hatiku terdalam, “Sayang, Aku benar – benar mencintaimu...”
.